FP UNS (0271) 637457

Home » Info » PERTANIAN TERAPUNG UNTUK PEMANFAATAN LAHAN

PERTANIAN TERAPUNG UNTUK PEMANFAATAN LAHAN

 

IMG-20170605-WA0006Indonesia dikenal sebagai negara agraris dimana pertanian mejadi sektor utama pembangunan ekonomi dan negara maritim karena memiliki pengairan yang luas. Masalah yang terjadi sekarang ini yaitu slih fungsi lahan. Lahan pertanian yang dahulu luas menjadi sempit sebagai akibat adanya tangan-tangan tidak bertanggung jawab yang menjadikan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian seperti pembuatan gedung, perumahan, mall, dan yang lainnya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyempitan lahan yaitu menggunakan pertanian terapung. Sebenarnya, sistem pertanian terapung ini mirip dengan metode bertani hidroponik dengan menggunakan teknologi tradisional. Media tanam pada pertanian terapung ini dibangun dari rumput alami dan beberapa jenis tanaman lainnya. Tanaman pokok yang ditanam pada pertanian terapung ditancapkan pada media yang mengambang hasil jalinan tanaman eceng gondok, gulma-gulma air, dan tanaman air lainnya. Dapat juga menggunakan bambu sebagai pengikat tanaman yang menjadi media tanam. Bambu disusun dengan panjang 15—50 meter, lebar 1,5—2 meter dengan tebal 0,6—0,9 meter. Bambu juga berfungsi memberi kekuatan pada lahan apung yang menjadi media tanam. Tanaman air yang hampir membusuk kemudian ditambahkan dan dibiarkan beberapa hari di atasnya. Setelah itu, baru disebar benih di atasnya.

Tanaman yang dapat ditanam di pertanian terapung contohnya sayuran dan padi. Pertanian terapung merupakan salah satu upaya pemanfaatan lahan perairan sebagai alternatif pertanian di daratan. Praktik pertanian terapung telah membantu menambah penghasilan masyarakat lokal dan memberikan kontribusi untuk pengentasan kemiskinan. Hal ini juga memberikan keamanan pangan yang lebih besar dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin yang tidak memiliki lahan luas. Jenis tanaman yg dapat di budidayakan adalahselada bayam, sawi, kangkung, mentimun, tomat, kentang, wortel, daun bawang, bunga mawar, cabe.Pertanian terapung tidak memerlukan biaya yang banyak seperti dengan metode biasa karena hanya menggunakan rakit juga pembatas dan bila ada enceng gondok maka tidak perlu rakit. Air yang surut akan menyebabkan munculnya hama tikut wereng namun dapat diatasi dengan menggunakan daun papaya. Pemakaian pupuk atau obat organik akan mencemari rawa dengan blooming algae.

Tidak semua masyarakat Indonesia mau untuk memulai menerima adanya inovasi ini karena belum banyak petani yang sudah menerapkan pertanian terapung. Lain halnya di skala internasional, metode pertanian ini telah mendapatkan perhatian FAO (badan pangan PBB) sebagai salah satu sistem pertanian warisan dunia yang harus terus dikembangkan ke depannya. Pemerintah Bangladesh justru berusaha mengembangkan pertanian terapung yang dapat digunakan untuk mengatasi banjir.

Teknik budidaya tradisional ini juga dinilai ramah lingkungan karena memanfaatkan sumber daya alam lahan basah yang ada untuk menanam sayuran dan tanaman lainnya hampir sepanjang tahun.Pertanian ini juga efisien karena tidak memerlukan asupan pupuk kimia ataupun pupuk kandang. Keuntungan lain, petani tidak perlu mengeluarkan biaya atau waktu untuk menyiram tanaman. Lahan apung ini produktivitasnya cukup tinggi, bisa mencapai 10 kali lipat dibanding pertanian konvensional. Kekurangan dari metode ini yaitu ketika air surut maka hama tikus mulai menyerang

Nusantara news. Com agustus 30 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *